Pesanan yang masuk tepat waktu belum tentu dapat langsung dikirim.
Sebelum barang sampai ke pelanggan, tim gudang harus
menemukan produk yang sesuai, mengambil jumlah yang benar, memeriksa kondisi
barang, dan meneruskannya ke proses packing.
Jika proses picking
berjalan lambat, tahapan berikutnya ikut terdampak. Pesanan dapat menumpuk di area pemrosesan, target pengiriman menjadi
lebih sulit dicapai,
dan beban kerja tim meningkat.
Masalah ini sering terjadi
ketika gudang masih mengandalkan pencarian
barang secara manual, lokasi penyimpanan tidak terstruktur, atau informasi inventaris tidak diperbarui secara
konsisten.
Salah satu cara mengatasinya adalah mengevaluasi warehouse picking system yang digunakan
dan menyesuaikannya dengan kebutuhan operasional.
Apa Itu Warehouse Picking
System?
Warehouse picking
system adalah metode dan sistem yang digunakan
untuk mengarahkan proses
pengambilan barang dari lokasi penyimpanan guna memenuhi pesanan.
Sistem ini dapat berupa
prosedur manual yang menggunakan daftar
picking, pemindaian barcode,
aplikasi gudang, hingga teknologi otomatisasi yang terintegrasi dengan WMS.
Tujuannya adalah
memastikan pekerja mengambil produk yang benar,
dari lokasi yang benar,
dengan jumlah sesuai pesanan, serta menyelesaikan proses dengan efisien.
Pemilihan sistem
picking harus mempertimbangkan jumlah pesanan, jumlah
SKU, ukuran gudang, pola
permintaan, dan sumber daya yang tersedia.
Mengapa
Proses Picking Bisa Memperlambat Order?
Ada beberapa
faktor yang sering
menyebabkan proses pengambilan barang memerlukan waktu lebih lama.
1. Lokasi barang tidak terstruktur
Ketika pekerja
kesulitan mengetahui lokasi
produk, mereka harus
menghabiskan waktu untuk mencari barang sebelum dapat
mengambilnya.
Masalah ini dapat muncul ketika lokasi penyimpanan tidak memiliki identifikasi yang jelas atau perubahan lokasi barang tidak
diperbarui dalam sistem.
Penataan lokasi
dan pencatatan inventaris yang konsisten membantu
mengurangi waktu pencarian.
2. Jarak perjalanan terlalu
jauh
Pekerja dapat menempuh jarak yang tidak perlu ketika produk yang sering dipesan
tersebar di berbagai area
gudang.
Evaluasi warehouse layout dan strategi
slotting dapat membantu
menentukan lokasi yang lebih
sesuai dengan frekuensi pengambilan serta karakteristik produk.
3. Informasi stok tidak akurat
Jika sistem menunjukkan stok tersedia tetapi barang sebenarnya tidak berada di lokasi
tersebut, pekerja harus mencari ulang atau melaporkan ketidaksesuaian.
Akibatnya,
waktu picking bertambah
dan pesanan dapat tertunda.
Karena itu, akurasi inventaris dan pembaruan transaksi perlu menjadi bagian
dari pengelolaan picking.
4. Metode picking tidak sesuai dengan pola pesanan
Metode picking
yang efektif untuk pesanan satu barang belum tentu optimal
untuk pesanan dengan banyak
SKU.
Jika gudang
menggunakan metode yang tidak sesuai
dengan profil pesanan,
pekerja mungkin melakukan
perjalanan berulang atau menangani terlalu banyak aktivitas secara terpisah.
5. Proses masih bergantung pada input manual
Pencatatan manual
dapat meningkatkan risiko
kesalahan ketika volume
pesanan bertambah. Pekerja
harus memeriksa daftar, menyalin informasi, atau melakukan konfirmasi secara terpisah.
Digitalisasi alur kerja dapat
membantu mengurangi pekerjaan berulang, terutama ketika
data pesanan, lokasi, dan stok dapat diakses dalam satu sistem.
Jenis Warehouse
Picking Methods yang Umum Digunakan
Tidak ada satu metode
yang selalu paling
baik untuk semua gudang. Beberapa
metode berikut dapat
dipertimbangkan sesuai karakteristik operasional.
Pada metode
ini, seorang pekerja
menyelesaikan satu pesanan
dalam satu siklus picking.
Metode ini relatif sederhana
dan mudah diterapkan pada gudang dengan volume pesanan
yang tidak terlalu tinggi atau pesanan yang membutuhkan penanganan
khusus.
Kekurangannya, pekerja
dapat melakukan perjalanan berulang jika banyak pesanan
membutuhkan produk dari lokasi yang sama.
Batch picking
menggabungkan beberapa pesanan
yang memiliki barang
serupa atau lokasi pengambilan berdekatan ke dalam
satu perjalanan.
Metode ini dapat membantu
mengurangi perjalanan berulang, terutama ketika banyak
pesanan memiliki SKU yang sama.
Namun, perusahaan perlu memastikan barang
yang diambil dapat
dipisahkan dan dialokasikan ke pesanan masing-masing
secara akurat.
Pada zone picking, gudang dibagi menjadi
beberapa zona dan pekerja bertanggung jawab atas area
tertentu.
Pesanan dapat
berpindah dari satu zona ke zona lain sesuai kebutuhan. Pendekatan ini membantu membagi
beban kerja dan dapat mengurangi perpindahan pekerja ke seluruh area gudang.
Agar efektif,
perusahaan perlu mengatur
perpindahan barang antarzona dan menghindari
penumpukan di titik perpindahan.
Wave picking
mengatur pesanan ke dalam kelompok
atau gelombang berdasarkan jadwal, prioritas, tujuan pengiriman, atau kapasitas
operasional.
Metode ini membantu menyelaraskan picking dengan proses
packing, jadwal pengiriman, dan kebutuhan tenaga kerja.
Wave picking dapat
berguna bagi gudang
yang menangani volume
pesanan tinggi dengan batas waktu pemrosesan tertentu.
Automated picking
memanfaatkan teknologi untuk
membantu atau mengotomatisasi bagian dari proses
pengambilan barang. Teknologinya dapat mencakup pick-to-light, voice picking,
conveyor, atau robot yang mendukung pergerakan barang.
Penerapan
otomatisasi perlu didasarkan pada analisis volume, jenis barang, tingkat
pengulangan aktivitas, dan biaya investasi. Tidak semua gudang membutuhkan tingkat otomatisasi yang sama.
Cara
Meningkatkan Picking Efficiency
Perusahaan dapat
memulai peningkatan efisiensi dari langkah-langkah yang paling relevan dengan masalah di gudang.
1. Petakan alur picking
saat ini
Catat waktu yang dibutuhkan untuk setiap tahap, mulai dari penerimaan instruksi
hingga barang selesai diambil.
Identifikasi lokasi yang sering menimbulkan keterlambatan, pesanan yang membutuhkan
banyak perjalanan, serta aktivitas yang paling sering harus diulang.
2. Evaluasi lokasi dan penempatan barang
Gunakan data frekuensi pengambilan untuk menentukan apakah
barang ditempatkan secara optimal.
Produk yang sering bergerak
dapat diprioritaskan pada lokasi yang mudah diakses,
selama penempatannya tetap sesuai dengan kebutuhan ruang dan
keselamatan.
3. Pilih metode berdasarkan pola pesanan
Discrete
picking, batch picking, zone picking, dan wave picking memiliki kelebihan yang
berbeda. Uji metode yang paling sesuai dengan pola pesanan
sebelum mengubah seluruh proses.
4. Gunakan data dan instruksi yang konsisten
Pastikan lokasi barang, kode SKU, jumlah inventaris, dan informasi pesanan
tercatat dengan benar.
Sistem digital
dapat membantu pekerja
menerima instruksi yang lebih konsisten dan mencatat hasil
picking secara langsung.
Pantau waktu picking, jumlah picks per jam, tingkat
kesalahan, dan waktu pemenuhan pesanan. Bandingkan hasil sebelum dan
sesudah perubahan untuk mengetahui apakah strategi yang diterapkan benar-benar
memberikan manfaat.
Bagaimana WMS Mendukung Warehouse Picking System?
Warehouse Management System (WMS) membantu
mengelola informasi yang mendasari
aktivitas picking, termasuk data lokasi penyimpanan, inventaris, dan pesanan.
Dengan informasi yang lebih terstruktur, tim gudang dapat
mengetahui lokasi barang,
mencatat pengambilan, dan memantau
perubahan stok. Sistem
yang memiliki fitur
sesuai kebutuhan juga dapat mendukung penugasan picking
serta integrasi dengan teknologi pendukung lainnya.
WMS bukan sekadar
alat pencatat stok. Ketika diterapkan sesuai proses bisnis, sistem ini membantu menghubungkan aktivitas penyimpanan dan pemenuhan pesanan
sehingga tim memiliki
visibilitas yang lebih baik terhadap pekerjaan yang sedang berlangsung.
Meski demikian, hasil implementasi tetap
bergantung pada akurasi
data, desain proses, kedisiplinan operasional, dan
kesesuaian fitur sistem.
Kesimpulan
Warehouse
picking system berperan penting dalam menentukan seberapa efisien gudang
memenuhi pesanan. Lokasi
barang yang tidak
terstruktur, perjalanan berulang, ketidakakuratan stok, dan metode picking yang kurang sesuai
dapat memperlambat order.
Dengan mengevaluasi
alur kerja, memilih metode picking yang tepat, dan memanfaatkan data inventaris yang akurat, perusahaan dapat membangun proses
pemenuhan pesanan yang lebih
terukur.
Linknau menyediakan
solusi Warehouse Management System (WMS) untuk membantu perusahaan mengelola
inventaris, memantau aktivitas gudang, dan meningkatkan visibilitas
operasional. Solusi yang tepat dapat
menjadi bagian dari upaya memperbaiki picking efficiency
dan mendukung pertumbuhan volume pesanan.
Pelajari solusi
WMS Linknau: https://linknau.id/en/product/wms
