Pertumbuhan bisnis
biasanya dianggap sebagai kabar baik.
Order meningkat, customer bertambah, produk semakin dikenal,
dan revenue ikut naik.
Tetapi ada satu hal yang sering terlambat mengikuti pertumbuhan tersebut: operasional.
Sistem
yang sebelumnya berjalan dengan baik ketika bisnis masih kecil belum tentu
mampu menangani volume
yang jauh lebih
besar. Spreadsheet mulai
sulit dikontrol, tim semakin sibuk melakukan pekerjaan
administratif, stok semakin sulit dipantau, dan proses pengiriman menjadi
semakin kompleks.
Pada akhirnya, bisnis bisa tumbuh
lebih cepat daripada
kemampuan sistem operasionalnya.
Proses
yang Dulu Sederhana Mulai Menjadi Kompleks
Ketika bisnis masih memiliki
sedikit order, satu orang mungkin
bisa menangani beberapa
pekerjaan sekaligus.
Order masuk, stok dicek, barang dipacking, kemudian pengiriman dibuat.
Semua bisa dilakukan dengan
komunikasi sederhana dan beberapa spreadsheet.
Tetapi ketika order meningkat
menjadi ratusan atau ribuan per hari, cara kerja yang sama mulai menimbulkan masalah.
Semakin banyak transaksi berarti
semakin banyak data yang harus diperbarui, semakin banyak barang yang harus
dipindahkan, dan semakin banyak keputusan yang harus dibuat dalam waktu
singkat.
Masalahnya bukan
karena tim tiba-tiba menjadi tidak kompeten.
Volume bisnisnya sudah melewati kapasitas proses yang digunakan.
Pertumbuhan Order Tidak
Selalu Berarti Operasional Lebih Efisien
Salah satu kesalahan yang sering terjadi
adalah menganggap masalah
operasional dapat diselesaikan dengan menambah orang.
Ketika order
meningkat, perusahaan menambah
admin. Ketika warehouse semakin sibuk, menambah operator. Ketika pengiriman meningkat,
menambah driver.
Dalam jangka
pendek, cara ini mungkin berhasil.
Tetapi jika proses
dasarnya masih manual,
jumlah pekerjaan administratif juga akan terus
bertambah.
Pada titik tertentu, perusahaan bukan hanya memiliki
lebih banyak karyawan,
tetapi juga semakin banyak proses yang harus dikoordinasikan.
Inventory
Mulai Menjadi Masalah
Pertumbuhan
bisnis biasanya diikuti dengan bertambahnya SKU dan jumlah inventory.
Semakin banyak
barang yang masuk
dan keluar, semakin
sulit menjaga data stok tetap akurat jika setiap transaksi masih
harus dicatat secara manual.
Barang
sudah keluar tetapi belum diperbarui. Barang
dipindahkan tetapi lokasinya
belum dicatat.
Customer melakukan order tetapi stok belum tersinkronisasi.
Hal-hal kecil
seperti ini dapat
menyebabkan stock discrepancy, overselling, hingga
keterlambatan fulfillment.
Dan semakin besar bisnis, biaya dari satu
kesalahan kecil juga ikut membesar.
Channel Penjualan yang Bertambah, Data yang Terpisah
Bisnis yang berkembang biasanya tidak hanya
mengandalkan satu channel.
Ada marketplace, website, social commerce,
toko fisik, reseller,
hingga distributor.
Masing-masing channel menghasilkan order dan data yang harus diproses.
Jika sistem tidak terintegrasi, tim akhirnya harus memindahkan data dari satu platform
ke platform lainnya secara manual.
Semakin banyak
channel, semakin banyak
pula pekerjaan yang sebenarnya tidak memberikan nilai langsung kepada
customer.
Masalah
Logistik Mulai Terlihat
Pertumbuhan order juga berarti peningkatan
aktivitas pengiriman.
Ketika volume masih kecil, memilih kurir dan membuat
order secara manual mungkin
bukan masalah.
Tetapi ketika jumlah pengiriman meningkat, tim mulai harus membandingkan layanan, membuat banyak shipping order, mengecek status
pengiriman, dan menangani
berbagai kendala delivery.
Tanpa sistem
yang terstruktur, aktivitas tersebut dapat menghabiskan waktu yang
seharusnya digunakan untuk pekerjaan yang lebih penting.
Kapan Bisnis Harus Mulai Membenahi Sistem?
Tidak ada angka order tertentu
yang menjadi batas universal.
Namun, ada beberapa tanda yang cukup jelas.
Jika tim mulai
menghabiskan sebagian besar waktunya untuk input data, stok sering berbeda, order
membutuhkan pengecekan manual,
laporan membutuhkan waktu
lama untuk dibuat, atau satu proses harus dikerjakan berulang kali oleh
beberapa orang,
berarti operasional mulai membutuhkan sistem
yang lebih baik.
Digitalisasi seharusnya dimulai sebelum masalah operasional menjadi terlalu besar, bukan setelah bisnis sudah
kewalahan.
Karena membangun
sistem ketika volume masih terkendali biasanya jauh lebih mudah
daripada memperbaiki proses yang sudah telanjur kompleks.
Pertumbuhan yang Sehat Membutuhkan Infrastruktur yang Ikut Tumbuh
Bisnis yang scalable bukan hanya bisnis yang mampu mendapatkan lebih banyak
customer.
Bisnis
yang scalable adalah bisnis yang mampu menangani pertumbuhan tersebut tanpa membuat
biaya dan kompleksitas operasional meningkat secara
tidak terkendali.
Karena itu, ketika bisnis
mulai tumbuh, sistem
untuk inventory, warehouse, order, dan logistics
juga perlu berkembang mengikuti kebutuhan.
Linknau membantu bisnis
membangun operasional yang lebih terintegrasi melalui solusi Logistics Aggregator, Warehouse Management System (WMS), dan
Transportation Management System (TMS). Dengan proses
yang lebih terhubung, bisnis dapat mengurangi
pekerjaan manual, meningkatkan visibility, dan mempersiapkan operasional untuk
volume yang lebih besar.
Karena pertumbuhan
bisnis seharusnya membuat bisnis semakin besar.
Bukan semakin berantakan.
