Dalam mengelola inventory, perusahaan biasanya menghadapi dua masalah yang terlihat berlawanan: stok terlalu
sedikit atau stok terlalu banyak.
Stok
terlalu sedikit menyebabkan produk tidak tersedia ketika customer
membutuhkannya. Sementara stok terlalu banyak
membuat modal bisnis
tertahan dalam inventory yang mungkin bergerak sangat lambat.
Keduanya sama-sama
memiliki konsekuensi.
Pertanyaannya, mana yang
sebenarnya lebih berbahaya bagi bisnis?
Jawabannya tidak
selalu sama untuk setiap perusahaan.
Ketika Bisnis
Mengalami Stockout
Stockout terjadi ketika
produk yang dibutuhkan customer tidak tersedia. Dampak paling jelas adalah
hilangnya potensi penjualan.
Customer yang sudah
siap membeli bisa memilih produk lain atau bahkan beralih ke kompetitor. Untuk
bisnis dengan produk yang memiliki banyak alternatif di pasar, kehilangan satu transaksi juga bisa berarti
kehilangan customer dalam jangka panjang.
Stockout juga
dapat mengganggu proses operasional.
Misalnya, sebuah order sudah masuk tetapi salah satu SKU yang dibutuhkan ternyata tidak tersedia. Tim harus
melakukan pengecekan ulang, mencari inventory, atau
menghubungi customer untuk memberikan informasi.
Semakin sering terjadi, semakin besar pula
waktu dan biaya yang terbuang.
Overstock: Masalah
yang Tidak Selalu
Terlihat
Berbeda dengan stockout, overstock
sering kali tidak terasa sebagai
masalah pada awalnya.
Gudang penuh.
Produk tersedia.
Order tetap bisa diproses.
Kelihatannya aman.
Padahal, terlalu banyak inventory berarti
semakin banyak modal yang tertahan.
Perusahaan harus menyediakan ruang penyimpanan, melakukan
handling, dan menanggung
risiko barang rusak, usang, atau kehilangan nilai.
Untuk produk dengan tren yang cepat berubah atau memiliki masa simpan terbatas, risiko tersebut bahkan bisa
lebih besar.
Jadi, Mana
yang Lebih Berbahaya?
Tidak ada jawaban
universal.
Untuk produk
dengan permintaan sangat
tinggi dan margin
besar, stockout bisa menjadi
masalah serius karena langsung menyebabkan lost sales.
Namun
untuk produk dengan perputaran lambat, overstock dapat menjadi masalah yang lebih besar karena modal perusahaan bisa tertahan dalam waktu yang panjang.
Karena itu, tujuan inventory management bukan memilih
antara stockout atau overstock.
Tujuannya adalah menemukan tingkat inventory yang optimal.
Masalahnya Sering
Dimulai dari Data yang Tidak
Akurat
Perusahaan sulit
menjaga keseimbangan inventory jika tidak mengetahui kondisi stok yang
sebenarnya.
Jika sistem menunjukkan 100 unit tetapi secara fisik hanya ada 80, keputusan purchasing dan replenishment
akan menggunakan data yang salah.
Begitu
juga ketika data penjualan tidak terhubung dengan inventory secara real-time.
Perusahaan mungkin mengira
stok masih aman, padahal sebagian
besar sudah terjual.
Inilah mengapa
inventory accuracy
menjadi salah satu KPI penting
dalam pengelolaan warehouse.
Forecasting Saja Tidak Cukup
Forecasting membantu
perusahaan memperkirakan kebutuhan inventory berdasarkan
pola permintaan.
Tetapi forecasting tetap membutuhkan data yang berkualitas.
Perusahaan perlu
mengetahui berapa banyak
barang yang tersedia, seberapa cepat
barang bergerak, produk mana yang slow-moving, dan bagaimana perubahan
permintaan terjadi.
Semakin lengkap
datanya, semakin baik perusahaan dapat
menentukan keputusan replenishment.
Bagaimana Teknologi Membantu?
Mengelola inventory
secara manual menjadi
semakin sulit ketika jumlah SKU, transaksi,
dan warehouse bertambah.
Warehouse
Management System (WMS) membantu perusahaan mencatat
pergerakan inventory secara
digital, memantau lokasi
barang, dan memberikan visibility terhadap kondisi stok.
Dengan data yang lebih akurat dan real-time, perusahaan dapat lebih cepat mengetahui
kapan stok mulai menipis atau ketika inventory tertentu mulai menumpuk.
Artinya, keputusan
tidak lagi hanya berdasarkan perkiraan.
Inventory yang Sehat Bukan Berarti Gudang Harus Penuh
Gudang yang penuh bukan indikator bahwa
inventory dikelola dengan baik.
Begitu juga gudang yang terlihat kosong
bukan otomatis berarti operasional efisien.
Yang lebih penting adalah apakah inventory
yang tersedia sesuai dengan kebutuhan bisnis.
Produk
yang tepat. Jumlah yang tepat. Pada waktu yang tepat.
Dan berada di lokasi yang tepat.
Linknau WMS membantu bisnis meningkatkan visibility terhadap inventory dan
aktivitas warehouse melalui
pengelolaan stok yang lebih terstruktur dan real-time.
Dengan data inventory yang lebih akurat,
perusahaan dapat mengambil keputusan dengan lebih baik untuk mengurangi risiko stockout
maupun overstock.
Karena dalam
inventory management, masalahnya bukan soal terlalu banyak atau terlalu sedikit.
Masalah sebenarnya adalah ketika bisnis
tidak tahu berapa banyak
yang sebenarnya dibutuhkan.
