Ketika pelanggan melakukan pemesanan secara
online, mereka biasanya
berharap barang dapat tiba
sesuai estimasi dan dalam kondisi baik. Namun, perjalanan dari pusat distribusi
hingga alamat penerima dapat menghadirkan berbagai tantangan, mulai dari
kemacetan, alamat yang sulit ditemukan, hingga penerima yang tidak berada di
lokasi.
Tahap pengiriman terakhir ini dikenal
sebagai last mile delivery. Walaupun merupakan bagian akhir dari perjalanan barang,
proses ini dapat memengaruhi biaya distribusi, ketepatan waktu, dan pengalaman
pelanggan.
Bagi
perusahaan yang mengirimkan banyak pesanan setiap hari, memahami cara kerja
last mile delivery menjadi
langkah penting untuk membangun operasional logistik yang lebih efisien.
Apa Itu Last Mile Delivery?
Last
mile delivery adalah tahap akhir proses pengiriman barang, yaitu ketika paket
bergerak dari titik distribusi terakhir—seperti hub, depot,
atau fasilitas sortir—menuju alamat penerima.
Tahap ini dapat melibatkan kurir, kendaraan distribusi, sistem pelacakan, dan koordinasi antara penyedia layanan logistik dengan
pelanggan.
Dalam bisnis e-commerce, last mile delivery
menjadi bagian penting
dari order fulfillment karena menentukan bagaimana barang benar-benar sampai ke
pelanggan setelah pesanan diproses dan dikirim dari gudang.
Meskipun disebut
last mile, jaraknya tidak selalu tepat satu mil. Istilah ini merujuk pada tahap
terakhir distribusi, bukan ukuran jarak tertentu.
Mengapa
Last Mile Delivery Menjadi Tantangan?
Pengiriman
tahap akhir sering kali memiliki kondisi yang lebih beragam dibandingkan
perjalanan antarfasilitas. Beberapa
tantangan berikut dapat
memengaruhi efisiensinya.
1. Biaya pengiriman yang kompleks
Biaya last mile delivery
dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti
jarak, kepadatan pengiriman, jumlah paket, jenis kendaraan,
waktu operasional, dan tingkat keberhasilan pengantaran.
Pengiriman ke banyak alamat yang tersebar
dapat membutuhkan waktu dan sumber daya lebih besar dibandingkan pengantaran ke
sejumlah lokasi yang berdekatan.
Karena itu, perusahaan perlu melihat biaya berdasarkan kondisi
operasional, bukan hanya tarif
per paket.
Kondisi jalan,
kemacetan, pembatasan kendaraan, serta akses ke lokasi penerima
dapat mengubah waktu perjalanan.
Rute yang terlihat pendek di peta belum tentu menjadi pilihan
paling efisien jika memiliki waktu tempuh yang tidak menentu atau sulit
diakses oleh kendaraan tertentu.
Alamat yang tidak lengkap,
petunjuk lokasi yang kurang jelas, atau informasi
kontak yang tidak dapat dihubungi dapat menyebabkan
keterlambatan dan percobaan pengiriman ulang.
Validasi alamat
dan komunikasi yang jelas dengan
penerima dapat membantu
mengurangi masalah tersebut.
Kurir mungkin
tiba ketika penerima
tidak berada di lokasi atau tidak dapat menerima paket. Situasi ini dapat memerlukan
penjadwalan ulang dan menambah biaya operasional.
Informasi estimasi
kedatangan dan koordinasi dengan pelanggan dapat membantu
meningkatkan peluang pengantaran berhasil pada percobaan pertama.
5. Visibilitas status pengiriman terbatas
Ketika status paket tidak diperbarui secara konsisten, tim layanan pelanggan
dan penerima dapat kesulitan
mengetahui posisi atau kondisi pengiriman.
Visibilitas yang baik membantu
perusahaan mengenali keterlambatan, memberikan informasi
yang lebih akurat, dan merespons masalah sebelum keluhan berkembang.
Bagaimana
Last Mile Delivery Memengaruhi Biaya Logistik?
Last mile logistics
bukan hanya persoalan
memindahkan paket dari titik A ke titik B. Perusahaan juga perlu memperhitungkan waktu
kerja kurir, pemakaian kendaraan, bahan bakar,
pengiriman ulang, serta biaya penanganan ketika terjadi masalah.
Sebagai contoh,
jika kurir harus kembali ke lokasi yang sama karena penerima tidak tersedia,
perusahaan mungkin perlu mengeluarkan sumber daya tambahan. Hal serupa dapat
terjadi ketika alamat salah atau paket harus dialihkan ke titik distribusi
lain.
Karena itu, evaluasi biaya last mile delivery sebaiknya
mempertimbangkan beberapa indikator, seperti:
●
Biaya rata-rata per pengiriman.
●
Persentase pengantaran berhasil pada percobaan pertama.
●
Persentase pengiriman tepat waktu.
●
Jumlah pengiriman ulang.
●
Waktu rata-rata dari hub terakhir hingga
penerima.
●
Jumlah paket yang dapat
diantarkan per rute atau per kurir.
Indikator tersebut
membantu perusahaan menemukan sumber biaya yang dapat dikendalikan dan mengukur dampak
perbaikan operasional.
Lima Cara Meningkatkan Efisiensi Last Mile Delivery
1. Optimalkan perencanaan rute
Perencanaan rute yang baik membantu mengatur
urutan kunjungan berdasarkan lokasi, waktu
tempuh, batas waktu pengantaran, dan kapasitas kendaraan.
Perusahaan dapat
mengevaluasi apakah rute yang digunakan sudah mengurangi perjalanan yang tidak perlu atau justru
membuat kurir berpindah-pindah area.
Untuk operasi
dengan banyak titik
pengiriman, perangkat lunak
perencanaan rute dapat membantu menyusun urutan kunjungan
dengan lebih terstruktur.
2. Pastikan data alamat dan penerima
akurat
Periksa kelengkapan alamat, nomor kontak,
kode pos, dan instruksi pengantaran sebelum paket berangkat.
Jika proses
pemesanan berasal dari beberapa kanal,
penyelarasan data dapat
membantu mengurangi kesalahan input yang menyebabkan keterlambatan.
3. Tingkatkan visibilitas pengiriman
Tracking yang diperbarui secara konsisten membantu
tim operasional memantau
status paket dan mengenali
pengiriman yang berpotensi terlambat.
Informasi yang lebih jelas
juga membantu layanan
pelanggan menjawab pertanyaan penerima tanpa harus mencari data secara manual dari berbagai
sumber.
4. Evaluasi kinerja kurir dan rute
Pantau ketepatan waktu, tingkat keberhasilan pengantaran, jumlah pengiriman ulang, dan biaya per rute.
Analisis ini dapat
menunjukkan area yang membutuhkan perubahan jadwal, penyesuaian
alokasi paket, atau perbaikan proses koordinasi.
Penilaian sebaiknya
mempertimbangkan kondisi wilayah
dan jenis pengiriman agar perbandingan kinerja tetap adil.
5. Hubungkan data pesanan
dan pengiriman
Ketika pesanan,
informasi penerima, dan status pengiriman dikelola dalam sistem
yang terpisah, tim mungkin perlu memindahkan data secara manual.
Integrasi dapat membantu mengurangi pekerjaan berulang serta meningkatkan konsistensi informasi. Bagi perusahaan
yang menggunakan beberapa penyedia jasa pengiriman, pengelolaan data melalui
satu platform juga dapat mempermudah pemantauan status dan evaluasi layanan.
Peran Teknologi dalam Last Mile Logistics
Teknologi dapat
mendukung last mile logistics melalui
beberapa pendekatan, mulai
dari perencanaan rute hingga pemantauan status pengiriman.
Transport Management System (TMS) dapat membantu perusahaan merencanakan dan memantau aktivitas transportasi, tergantung fitur
yang digunakan. Sistem
ini dapat mendukung perencanaan rute, alokasi
tugas, dan evaluasi kinerja pengiriman.
Sementara itu, platform logistik
multi-ekspedisi membantu bisnis
mengakses dan mengelola pilihan layanan pengiriman
melalui satu dashboard. Pendekatan ini dapat memudahkan perbandingan layanan
serta pemantauan pengiriman, sesuai kemampuan platform dan integrasi yang
tersedia.
Namun, teknologi
bukan solusi tunggal.
Efisiensi tetap bergantung pada kualitas data, proses
operasional, koordinasi dengan kurir, dan pemilihan layanan yang sesuai dengan
kebutuhan pengiriman.
Last Mile Delivery
di Indonesia: Apa yang Perlu
Diperhatikan Bisnis?
Kondisi pengiriman di Indonesia sangat beragam. Pengantaran di pusat kota yang padat memiliki tantangan berbeda dari distribusi ke daerah dengan
jarak antarlokasi yang jauh.
Bisnis perlu mempertimbangkan cakupan layanan ekspedisi, akses ke alamat
penerima, estimasi waktu pengiriman, volume paket, dan kebutuhan
pelanggan di setiap wilayah.
Perusahaan
yang melayani banyak daerah juga sebaiknya tidak hanya berfokus pada tarif
terendah. Kecepatan, reliabilitas, kualitas tracking, dan tingkat keberhasilan pengantaran dapat
sama pentingnya ketika menghitung biaya total operasional.
Dengan mengevaluasi data pengiriman secara
rutin, perusahaan dapat
menentukan layanan dan proses
yang paling sesuai untuk setiap jenis pesanan.
Kesimpulan
Last mile delivery merupakan
tahap akhir distribusi yang berpengaruh terhadap
biaya logistik, ketepatan
waktu, dan pengalaman pelanggan. Tantangan seperti kemacetan, alamat tidak
akurat, pengiriman ulang, dan keterbatasan tracking dapat meningkatkan kompleksitas operasional.
Perusahaan dapat
meningkatkan efisiensi melalui
perencanaan rute, validasi
data penerima, pemantauan
kinerja kurir, dan integrasi informasi pesanan dengan pengiriman.
Linknau membantu
bisnis mengelola pengiriman melalui platform logistik multi-ekspedisi yang
memungkinkan pemantauan pengiriman dan pengelolaan berbagai
pilihan layanan dalam
satu dashboard. Bagi bisnis yang ingin memperbaiki visibilitas dan
pengelolaan proses logistik, sistem yang terintegrasi dapat menjadi salah satu
langkah menuju operasional yang lebih terstruktur.
Pelajari solusi logistik
Linknau: https://linknau.id/en/product/wms
