Perubahan aturan
perpajakan dapat memengaruhi cara penjual online
mengelola transaksi dan administrasi bisnis. Karena itu,
pelaku usaha tidak cukup hanya memantau penjualan. Mereka juga perlu memahami
bagaimana potongan atau pemungutan pajak tercatat, bagaimana arus kas dikelola,
dan berapa biaya yang sebenarnya dibutuhkan untuk memenuhi setiap pesanan.
Salah satu perkembangan yang perlu diperhatikan oleh seller marketplace di Indonesia adalah penerapan pemungutan Pajak
Penghasilan (PPh) Pasal 22 melalui marketplace yang ditunjuk pemerintah.
Direktorat Jenderal
Pajak (DJP) menyatakan bahwa pemungutan tersebut
mulai dilaksanakan pada 1
Oktober 2026 melalui marketplace yang telah ditunjuk. Kebijakan ini mengacu
pada Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 37 Tahun 2025. Informasi terbaru
dan ketentuan lengkapnya dapat diperiksa melalui situs resmi DJP: https://pajak.go.id/marketplace.
Lalu, apa yang perlu dilakukan bisnis online agar dapat menyesuaikan administrasi tanpa
mengabaikan efisiensi operasional?
Apa
Itu Pemungutan Pajak Seller Marketplace?
Pemungutan PPh Pasal 22 melalui marketplace merupakan mekanisme ketika
penyelenggara marketplace yang ditunjuk pemerintah memungut PPh atas
penghasilan pedagang dalam negeri dari transaksi melalui sistem perdagangan
elektronik.
Berdasarkan informasi DJP, besaran pemungutan yang diatur adalah
0,5% dari peredaran bruto yang menjadi dasar pemungutan sesuai ketentuan, dengan
pengecualian tertentu yang diatur dalam regulasi.
Penerapan
dan kewajiban setiap seller dapat bergantung pada status, jenis penghasilan,
serta ketentuan pengecualian yang berlaku. Oleh karena itu, penjual sebaiknya tidak mengasumsikan
bahwa semua transaksi atau seluruh seller memiliki perlakuan pajak yang sama.
Penting juga untuk membedakan pemungutan PPh dari biaya layanan
marketplace, biaya iklan, komisi, biaya pengiriman, dan
kewajiban perpajakan lainnya. Semua komponen tersebut perlu dipahami secara
terpisah ketika menghitung profitabilitas bisnis.
Bagaimana Kebijakan Ini Memengaruhi Pengelolaan Bisnis Online?
Dampak operasionalnya tidak hanya berkaitan dengan pajak yang dipungut, tetapi
juga dengan kebutuhan untuk
menjaga pencatatan transaksi tetap akurat.
1. Pencatatan pendapatan harus lebih rapi
Seller perlu
mencocokkan data pesanan,
nilai transaksi, pembayaran yang diterima, biaya marketplace, serta pemungutan pajak
yang tercatat.
Tanpa pencatatan yang terstruktur, pemilik
bisnis dapat kesulitan membedakan pendapatan
penjualan, uang yang benar-benar diterima, dan biaya yang mengurangi margin.
2. Arus kas perlu
dipantau dengan lebih
cermat
Ketika bisnis menerima pembayaran dari berbagai kanal, nominal yang masuk ke rekening bisa berbeda dari nilai penjualan bruto
karena adanya komponen potongan dan penyesuaian.
Memantau arus kas secara
rutin membantu perusahaan merencanakan pembelian stok, pembayaran pemasok, biaya tenaga
kerja, dan kebutuhan operasional lainnya.
3. Perhitungan profit perlu
mempertimbangkan seluruh biaya
Penjualan
yang tinggi belum tentu menghasilkan keuntungan yang tinggi. Bisnis perlu
memperhitungkan harga pokok produk, biaya marketplace, promosi,
pengemasan, pengiriman, retur,
serta komponen pajak yang relevan.
Pencatatan yang tepat membantu
pemilik usaha memahami
margin sebenarnya dan menentukan harga jual atau strategi
promosi secara lebih rasional.
Lima
Cara Menjaga Efisiensi Operasional Bisnis Online
Penyesuaian administrasi akan lebih mudah jika proses bisnis sudah terstruktur. Berikut beberapa langkah yang dapat
diterapkan.
1. Pisahkan laporan penjualan dan laporan biaya
Buat
laporan yang membedakan nilai penjualan, biaya platform, biaya pemasaran, biaya
pengiriman, dan komponen
pajak. Dengan begitu,
pemilik usaha dapat
mengevaluasi sumber
pengeluaran tanpa mencampur semua komponen dalam satu angka.
Jika berjualan di beberapa marketplace, gunakan format pencatatan yang konsisten agar data
dapat dibandingkan.
2. Evaluasi biaya pemenuhan pesanan
Selain biaya platform dan pajak, biaya gudang dan pengiriman dapat memengaruhi margin setiap pesanan.
Perusahaan
perlu memantau biaya kemasan, tenaga kerja, penyimpanan, proses picking dan
packing, serta tarif
pengiriman. Evaluasi ini membantu menemukan aktivitas yang memerlukan perbaikan.
3. Kurangi pekerjaan administratif yang berulang
Menggabungkan data pesanan dari berbagai kanal
secara manual dapat
menghabiskan waktu dan
meningkatkan risiko kesalahan input.
Bisnis dapat
mengevaluasi penggunaan integrasi sistem untuk menyelaraskan data pesanan,
inventaris, dan pengiriman. Tingkat integrasi yang dibutuhkan tentu bergantung
pada skala bisnis serta sistem yang telah digunakan.
Ketika pesanan
datang dari beberapa
kanal, data stok yang tidak sinkron dapat menimbulkan
overselling, pembatalan pesanan, dan pekerjaan tambahan.
Sistem inventaris yang terstruktur membantu
perusahaan memantau ketersediaan barang, mengurangi ketidaksesuaian stok, dan merencanakan
pengadaan dengan lebih baik.
5. Pantau profitabilitas per kanal dan per pesanan
Jangan hanya
melihat total penjualan bulanan. Bandingkan margin
berdasarkan kanal penjualan,
kategori produk, atau jenis pesanan.
Dengan cara ini, bisnis
dapat mengenali produk yang menguntungkan, promosi yang terlalu mahal, serta biaya operasional
yang perlu dikendalikan.
Mengapa
Integrasi Pesanan, Inventaris, dan Pengiriman Penting?
Bagi bisnis
yang mulai berkembang, data sering tersebar
di beberapa tempat:
dashboard marketplace, spreadsheet inventaris, sistem akuntansi, dan
aplikasi pengiriman.
Jika data tidak terhubung, tim harus memindahkan informasi secara manual.
Akibatnya, proses menjadi
lebih lambat dan risiko ketidaksesuaian data meningkat.
Integrasi
sistem membantu mengurangi pekerjaan berulang dan membuat alur pemenuhan
pesanan lebih terstruktur. Ketika data pesanan, stok, dan pengiriman dapat
dikelola dengan lebih terhubung, tim operasional memiliki
dasar yang lebih baik untuk mengevaluasi biaya dan
kinerja bisnis.
Namun, integrasi
logistik bukan pengganti pencatatan akuntansi atau konsultasi pajak. Seller
tetap perlu memastikan bahwa administrasi pajaknya mengikuti ketentuan resmi yang berlaku.
Kesimpulan
Penerapan pemungutan PPh Pasal 22 melalui marketplace menjadi pengingat bagi seller untuk menjaga administrasi transaksi dan
pengelolaan biaya tetap akurat. Selain memahami aturan yang berlaku, bisnis
perlu memperhatikan arus kas, profitabilitas, pengelolaan stok, dan biaya
pemenuhan pesanan.
Semakin terstruktur proses operasional, semakin
mudah bagi perusahaan memahami ke mana biaya dikeluarkan dan bagian mana
yang dapat diperbaiki.
Linknau membantu bisnis
mengelola proses logistik
melalui solusi pengiriman multi-ekspedisi dan Warehouse Management System (WMS). Dengan
pengelolaan pesanan, inventaris, dan pengiriman yang lebih
terstruktur, bisnis dapat
meningkatkan visibilitas operasional sekaligus mengevaluasi efisiensi prosesnya.
Pelajari solusi logistik Linknau
untuk mendukung pertumbuhan bisnis online: https://linknau.id/en/product/wms
Catatan editorial: Artikel ini membahas dampak
operasional, bukan memberikan nasihat pajak.
Sebelum publikasi, verifikasi kembali ketentuan, pengecualian, dan daftar marketplace
yang ditunjuk melalui sumber resmi DJP.
